Peristiwa itu terjadi pada tahun 2008. Kejadian yang membuat banyak perubahan dan pemahaman baru dalam hidupku.Sebelumnya aku yang tak perduli dengan kehidupan religi dan pentingnya dekat dengan Tuhan Maha Pencipta,mulai tersadar aku butuh Sang Pencipta setiap saat, kapanpun, di manapun.
Saat itu kehamilan istriku menginjak 5 bulan di usia pernikahan kami di bulan ke 6. Sebagai buruh pabrik aktivitas dan kesibukan fisik istriku begitu tinggi sehingga mengabaikan kondisi kehamilannya. Oleh karena itulah istriku bolak balik masuk Rumah Sakit karena kelelahan.
Dan saat usia kehamilan bulan ke 6, istriku jatuh terpeleset di pabrik dan ke esokan harinya aku bawa dia ke Rumah Sakit karena pas jatuh seperti ada air ketuban yang keluar. Ternyata benar setelah diperiksa dokter air ketuban dalam kandungan tinggal sedikit dan harus segera dilakukan tindakan operasi.
Beberapa jam kemudian operasi pun segera dilakukan. Dan lahirlah anak lelaki pertamaku dengan selamat. Alhamdullillah,istriku juga baik-baik saja.
Namun karena kelahiran anakku yang belum waktunya dan hanya dengan berat 1,8kg maka perlu dilakukan tindakan dan pengawasan medis secara khusus. Anakku harus di inkubator dan dengan selang kabel menempel di tubuhnya membuat siapapun yang melihat menjadi iba.
Awalnya aku pikir baik-baik saja.Tapi setelah 1-2 hari, kondisi kesehatan anakku menurun.Apalagi kebetulan ada beberapa bayi yang lahir berbarengan dengan anakku meninggal. Membuat aku dan keluarga mulai cemas.
Sampai pada sabtu sore, menjelang magrib Kepala perawat memanggilku dan merekomendasikan untuk membawa anakku ke Rumah Sakit yang lebih besar dan peralatan yang lebih komplit, karena kondisi anakku yang semakin kritis. Dalam kebingungan aku berembuk dengan istri dan ibu mertua yang kebetulan ada disitu. Karena pertimbangan takut malah terjadi apa-apa diperjalanan maka kami memutuskan untuk bertahan.Keputusan kami ini membuat jengkel pihak perawat.Sampai mereka mengatakan kalau tidak dibawa ke Rumah Sakit yang lebih besar anakku tidak akan bisa melewati malam itu. Aku begitu sedih, istri dan mertuaku menangis. Karena keputusan kami sudah bulat untuk bertahan, perawat menyuruh aku untuk membuat surat pernyataan tidak akan menuntut Rumah Sakit apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap anakku.
Betapa.....( bersambung )
Saat itu kehamilan istriku menginjak 5 bulan di usia pernikahan kami di bulan ke 6. Sebagai buruh pabrik aktivitas dan kesibukan fisik istriku begitu tinggi sehingga mengabaikan kondisi kehamilannya. Oleh karena itulah istriku bolak balik masuk Rumah Sakit karena kelelahan.
Dan saat usia kehamilan bulan ke 6, istriku jatuh terpeleset di pabrik dan ke esokan harinya aku bawa dia ke Rumah Sakit karena pas jatuh seperti ada air ketuban yang keluar. Ternyata benar setelah diperiksa dokter air ketuban dalam kandungan tinggal sedikit dan harus segera dilakukan tindakan operasi.
Beberapa jam kemudian operasi pun segera dilakukan. Dan lahirlah anak lelaki pertamaku dengan selamat. Alhamdullillah,istriku juga baik-baik saja.
Namun karena kelahiran anakku yang belum waktunya dan hanya dengan berat 1,8kg maka perlu dilakukan tindakan dan pengawasan medis secara khusus. Anakku harus di inkubator dan dengan selang kabel menempel di tubuhnya membuat siapapun yang melihat menjadi iba.
Awalnya aku pikir baik-baik saja.Tapi setelah 1-2 hari, kondisi kesehatan anakku menurun.Apalagi kebetulan ada beberapa bayi yang lahir berbarengan dengan anakku meninggal. Membuat aku dan keluarga mulai cemas.
Sampai pada sabtu sore, menjelang magrib Kepala perawat memanggilku dan merekomendasikan untuk membawa anakku ke Rumah Sakit yang lebih besar dan peralatan yang lebih komplit, karena kondisi anakku yang semakin kritis. Dalam kebingungan aku berembuk dengan istri dan ibu mertua yang kebetulan ada disitu. Karena pertimbangan takut malah terjadi apa-apa diperjalanan maka kami memutuskan untuk bertahan.Keputusan kami ini membuat jengkel pihak perawat.Sampai mereka mengatakan kalau tidak dibawa ke Rumah Sakit yang lebih besar anakku tidak akan bisa melewati malam itu. Aku begitu sedih, istri dan mertuaku menangis. Karena keputusan kami sudah bulat untuk bertahan, perawat menyuruh aku untuk membuat surat pernyataan tidak akan menuntut Rumah Sakit apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap anakku.
Betapa.....( bersambung )

Tidak ada komentar:
Posting Komentar