Syeh Abdul Jalil atau lebih dikenal dengan nama Syeh Siti Jenar, seorang wali kontroversial di masa penyebaran Islam di Jawa oleh walisongo. Berbagai versi mengisahkan perjalanan hidup sampai kematiannya.
Lepas dari sepak terjangnya dalam syiarnya di jawa yang dianggap kontroversial dan bersebrangan dengan Walisongo. Syeh Siti Jenar meninggalkan wejangan dan ajaran dalam suluk. Salah satu Suluknya tentang akhir jaman berisikan wejangan dalam menghadapi jaman yang mendekati akhir.
Berikut salah satu petikan isi suluk tersebut
Suluk Akhir Jaman:
"Jamane saiki jaman edan, okeh wong waras tapi kelakuane ngungkuli wong edan, ngaku wong pinter mung gawene minteri liyan, ngaku nduwe ngelmu tingkat kasepuhan asline mung dolanan sulapan, iki tondo akhire jaman, wong gampang ngedol iman mergo mikir uman, yen wes kumanan mikire eman, qur'an kadis mung ge kudung lan lamis, kapir ngapirke liyan kui wes dadi tondo kapire dewe, moso bodo o sing penting nduwe jeneng lan jenang, kalal karom rano bedane, yen kalal kanggone dewe, yen karom tudingke koncone, agomo mung kanggo alat ben nutupi mripat, katon agung katon alim sejatine zolim, ragat gowo klambi sorban lan sitik setitik mocone dalil agomo, ben disawang apik ben wong okeh kintil lan percoyo, sing sesat kui wong liyo, awak dewe sing bener calone suwargo, suwargo ndonyo kang pesti ono, suwargo akherat opo digayuh biso, yen anggowo jenenge walisongo sajake katon bedani, wong nuswantoro kui gampang diapusi gampang dibodoni, kui tondo akhire jaman, okeh sing ngaku wali ngaku nabi ngaku gusti, mulo siro kabeh kudu eling lan waspodo, ugo nyekel iman islam iksan bakal slamet ono hera herune jaman."
Terjemahan Suluk Akhir Jaman:
"Jaman sekarang jaman gila, banyak orang sehat tapi perbuatannya melebihi orang gila, mengaku orang pandai cuma untuk membodohi orang lain, mengaku memiliki ilmu tingkat tinggi tapi sebenarnya hanya bermain sulap, ini tanda akhir dari jaman, orang mudah menjual iman karena hanya berpikir mendapat bagian, kalau sudah mendapatkannya hanya untuk dirinya sendiri, al quran hadist hanya buat kedok semata dan pura-pura dibicarakan, mengkafirkan orang lain sebenarnya itu tanda kafir dirinya sendiri, masa bodoh yang penting memiliki nama dan harta, halal haram sudah tidak ada bedanya, kalau halal buat dirinya sendiri, kalau haram ditunjukkan orang lain, agama cuma alat untuk menutup mata orang, agar terlihat terpandang terlihat alim/ soleh tapi sebenarnya zhalim, cukup memakai baju sorban dan sedikit-sedikit bacanya memakai dahlil agama, biar terlihat baik biar orang banyak jadi percaya mau jadi pengikutnya, yang sesat itu orang lain, dirinya sendiri paling benar calonnya masuk surga, surga dunia yang pastinya ada, surga di akhirat apa bisa dicapainya, kalau membawa nama para wali sembilan agar terlihat beda lain dari yang lain, orang nusantara ini mudah ditipu mudah dibodohi, itulah tanda akhir jaman, banyak yang mengaku dirinya wali,nabi bahkan tuhan, makanya kamu semua harus ingat dan waspada, serta berpegang iman, islam, berbuat kebaikan agar selamat dalam hiruk pikuknya jaman."
Demikian petikan suluk tentang akhir jaman Syeh Siti Jenar mungkin seperti kita rasakan sekarang. Lepas dari suasana politik, sosial saat ini, isi suluk tersebut bisa menjadi wejangan, serta menjadi tambahan ilmu untuk kebaikan kita kedepannya nanti. Juga menjadi pengingat dan selalu waspada bila akhir jaman pasti akan datang, sehingga kita bisa mempersiapkan diri dan tidak terjerumus pada hal yang bisa merugikan kita sendiri.
